Senin, 02 November 2015

Gigi Tonggos Berawal Dari Kebiasaan Bayi Isap Jempol


Merawat dan menjaga gigi anak tetap sehat, wajib dilakukan oleh orangtua. Satu hal yang juga harus diperhatikan oleh orangtua terkait kondisi gigi si kecil adalah kebiasaannya menghisap jempol. Bukan hanya karena jempol banyak kumannya, kebiasaan mengisap jempol sejak kecil memicu pertumbuhan gigi yang kurang bagus. Risiko terbesarnya adalah pertumbuhan gigi yang maju ke depan alias tonggos.
Dalam pertumbuhannya, bentuk rahang manusia dipengaruhi oleh apa-apa yang masuk ke dalam mulutnya sedari kecil. Ketika jempol terlalu sering dimasukkan, maka rahang akan menyesuaikan dengan struktur jempol tersebut. Gigi yang seharunya tumbuh tegak lurus ke bawah, lantaran terlalu sering ditekan oleh jempol yang dimasukkan, akhirnya berbelok agak ke depan dan menyebabkan gigi menjadi tonggos.
Jika dirunut lagi, kebiasaan si kecil mengisap jempol juga tidak lepas dari ketergantungannya kepada dot. Ketika terlepas dari dot, secara naluriah ia akan menghisap jempolnya yang mirip dengan bentuk dot. Yang paling bahaya jika itu terjadi pada gigi permanen.
Solusinya: membiasakan si kecil menggunakan sedotan alih-alih dot. Beberapa orangtua yang cerdik memplester jempol anaknya yang dibubuhi obat pahit sehingga si kecil ogah mengisap jempolnya. Ada juga orangtua yang memberi hadiah ice cream kepada si kecil yang bersedia melepas jempolnya dari mulut. Karena bagaimana pun juga, menjaga gigi anak tetap sehat adalah wajib hukumnya.


Senin, 13 Juli 2015

Menjaga Gigi Anak Tetap Sehat: Dimulai dari Kebiasaan Orangtua


Tak acuhnya orangtua terhadap kondisi gigi dan mulut si anak sejak kecil berdampak pada  buruknya kondisi gigi si anak kelak: gigi berlubang, gigi tongos, dan gigi yang tumbuh tidak rata. Oleh karena itu, merawat dan menjaga gigi anak tetap sehat, wajib dilakukan oleh orangtua.

Data paling baru yang dirilis oleh Oral Health Media Center yang berada di bawah naungan WHO pada 2012 menyebut, ada 60-90 persen anak usia sekolah dan orang dewasa di seluruh dunia memiliki permasalahan gigi.  Hal yang sama terjadi di Indonesia. Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2007 menyebut, hampir 90 persen anak Indonesia usia di bawah 12 tahun mengalami karies gigi alias gigi berlubang. Sementara bagi mereka yang di atas 12 tahun angkanya juga masih signifikan, hampir 50 persen.

Salah satu penyebab paling potensial kerusakan gigi pada anak adalah bakteri yang muncul di mulut. Secara teknis, bakteri-bakter tersebut bisa dibersihkan dengan menggosok gigi. Tapi bagi anak-anak yang belum bisa menggosok gigi, tentu saja menjadi pekerjaan rumah tersendiri. Di situlah peran orangtua diperlukan.

Orangtua harus membiasakan diri merawat gigi si anak sedini mungkin, saat si anak masih berusia berusia 4-6 bulan. Perawatan dini ini bisa dimulai dengan membersihkan jaringan lunak pada mulut si kecil, termasuk gusinya, lidahnya, dan palatum atau langit-langit mulutnya. Perawatan lebih intensif akan diperlukan saat si kecil sudah mulai mengonsumsi makanan pendamping ASI, terlebih ketika si kecil harus mengonsumsi susu formula.

Biasanya, sisa susu formula yang mengendap di lidah dan palatum anak berpotensi melahirkan jamur yang bisa menyebabkan gigi karies. Tidak sulit untuk membersihkan lidah dan palatum si anak, cukup dengan menggunakan kain kasa yang dibebatkan ke jari telunjuk. Jari yang dibebat kain kasa tersebut lalu digunakan untuk membasuh lidah dan langit-langit lidah perlahan-lahan, dengan gerakan berputar, dan sesekali dengan gerakan memijat. Gerakan memijat juga berfungsi untuk melancarkan peredaran darah serta merangsang erupsi gigi. Paling awal, gigi tumbuh ketika si kecil berusia 6 bulan.

Orangtua secara tidak sadar juga sering mencicipi makanan yang hendak disuapkan kepada si kecil. Kebiasaan ini mempermudah terjadinya transmisi kuman dari mulut ibu ke mulut si kecil. Tidak hanya orangtua, kebiasaan ini juga kerap dilakukan para pengasuh bayi.

Metode pembersihan memasuki fase baru ketika si kecil mulai tumbuh gigi. Di fase ini, orangtua sudah bisa menggunakan sikat gigi khusus anak. Sikat gigi, mula-mula bisa difungsikan sebagai mainan si kecil. Kalau sudah mau menempelkan sikat gigi, baru dibiasakan aktivitas sikat gigi.

Untuk pemilihan sikat gigi, idealnya adalah yang bisa menjangkau dua hingga tiga gigi. Jangan terlalu pendek, juga jangan terlalu panjang. Sementara untuk pasta gigi, yang paling penting ada kandungan flour dan kalsium di dalamnya. Penggunaan pasta gigi pada si kecil bisa dimulai ketika si anak sudah bisa berkumur.


PETA LOKASI


View Griya Pitara in a larger map